Category: Konsultasi

  • Nasihat Harus Cocok dengan Panggilan Hidup dan Skenario ‘TUHAN’

    Nasihat Harus Cocok dengan Panggilan Hidup dan Skenario ‘TUHAN’

    Kemarin, kami kedatangan 2 orang gadis dari dua kota besar yang berbeda di Indonesia, namun memiliki keluhan yang sama : dikejar-kejar oleh ortunya dan keluarga besarnya untuk segera mencari pacar dan menikah.

    Kebetulan, keduanya akan berusia 31 tahun, tahun ini.

    Kebetulan juga, keduanya cantik.

    Kebetulan juga keduanya berpendidikan tinggi.

    Kebetulan juga, keduanya memiliki karir yang cemerlang.

    Dan semesta ini memang ajaib, keduanya ramah dan periang.

    Jadi ya wajar kalau ortu gadis yang pertama (kita sebut saja A, ya) menasihati :

    “Jangan terlalu pemilih… lelaki baik-baik itu banyak kok. Manusia itu setara semua… Jangan merasa dirimu itu tinggi…”

    Nasihat yang bagus, sebetulnya. Dan sangat humanis.

    Tapi, ya gimana… si A ini memang HARUS DAPAT ORANG SUKSES, KAYA DAN LEBIH TUA… Dia ini numerologinya 9 (Hermit), merupakan numerologi tertinggi dari semua tipologi. Seorang berjiwa ‘tua’ bagaikan pertapa yang wisdomnya mumpuni. Pertapa, mana bisa tahan hidup dengan orang awam yang cetek pemikirannya dan sempit wawasannya. Seorang Hermit biasanya hanya jatuh cinta kepada orang yang bisa dikagumi dan dihargainya. Nggak sembarang orang mampu membuatnya terkesan.

    Plus, Life Values yang dia bawa di bawah sadarnya adalah The Queen. Ratu. Mana ada Ratu yang bisa ‘fulfilled’ hidup sebagai rakyat biasa?

    Melihat latar belakangnya yang double degree di luar negeri dan sudah S2 pula… Haih… memaksanya ’mencomot’ lelaki yang pokoknya baik dan memiliki pekerjaan tetap lalu menyuruhnya menikah… hanya akan membuat gadis ini menderita.

    Lha lalu apa artinya, jika bisa segera menikah tapi lantas menderita??? Mendingan sabar dulu, sampai ketemu jodohnya yang betulan bermutu. Ada kok, jodohnya. Tapi belum ‘available’ sekarang… Entah kenapa belum available. Mungkin masih punya istri… Mungkin masih membangun ’kerajaan’ dulu…

    Atau mungkin masih keliling dunia menuntaskan beberapa tugas kehidupan, sebelum akhirnya bisa menetap dan membangun keluarga…

    ********

    Lain halnya dengan si B. Gadis yang lahir dari keluarga berada ini sibuk mengelola bisnis keluarga besarnya. Relasi yang dikenalnya luas. Tapi mereka adalah klien-klien besar, supplier, beberapa pejabat di dinas-dinas yang terkait dengan ekspor-impor… Bukan orang sebaya.

    Berbeda dengan si A, ortu dan keluarga besar si B justru mewanti-wanti agar B cermat memilih-milih pasangan hidup… jangan asal cocok tapi levelnya di bawah keluarga mereka, supaya nggak memicu konflik terkait harta dan warisan.

    Nasihat yang bagus juga, memperhatikan bibit, bebet, bobot agar pernikahannya sinergis dan langgeng.

    Tapi, lucunya, sikonnya terbalik. Si B ini numerologinya adalah 6 (The Lovers) dan Life Valuesnya adalah 8 (The Strength). Dia justru akan bahagia jika mendapatkan pasangan hidup yang mampu membuatnya NYAMAN, meskipun datang dari latar belakang berbeda dan levelan di bawahnya. Nggak masalah baginya, karena 8 adalah orang yang kuat menderita. Artinya, kemiskinan tidak akan membuatnya merana. Apalagi, kenyataannya dia toh tidak miskin. Kalau cuma diajak liburan ‘pulang kampung’ ke desa terpencil suami yang rumahnya reot…. Dia akan nyaman saja. Yang penting dikelilingi oleh orang-orang yang loving.

    Gadis B ini, jodohnya juga ada. Tapi di Amerika, bukan di kota tempat dia berkuliah dulu. Dan setelah beberapa tanya jawab, kami menemukan lokasinya.

    Bisa kok, pindah tahun depan. Sekarang persiapan dulu, membereskan perusahaan agar bisa dikelola dari jauh, lalu mungkin meluaskan usaha ke sana. Bulan Juni tahun ini akan menjadi lebih clear, urusan dan tujuannya pindah. Berproses saja dengan nyaman dan bahagia.

    ********

    Dari kedua kisah A dan B ini, kita jadi memahami bahwa nasihat yang bagus itu belum tentu cocok bagi semua orang… Karena setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik, yang nggak bisa diseragamkan sesuai pakem yang beredar di masyarakat…

    Jika tertarik berkonsultasi, dapat mengklik :

    InfoGAC.com

    Lalu pilih tulisan ‘Garuda Amerta Whatsapp’

    Informasi mengenai berbagai jenis konsultasi yang kami berikan, ada di :

    Www.garudaamerta.com

  • Satu Tahun, From Zero to Hero

    Satu Tahun, From Zero to Hero

    “Suami saya menyeleweng, dan dia sekarang tinggal bersama pacarnya di kota X. Hanya pulang di saat weekend, ke kota kami.” seorang perempuan muda, berwajah sangat cantik, bermata besar seperti menjangan, dan berambut panjang, hadir di ruang konsultasi kami. Tatapan matanya kosong. Terlihat sangat sedih dan kalut, tetapi tidak menangis.

    “Anak kami dua orang. Usia 5 dan 1 tahun.”

    “Sudah menikah lagi ya, suaminya?” tanya Ade.

    “Belum… baru pacaran saja.”

    “Oh gitu? Karena di sini terlihat sudah menikah dan… hmmm… cewenya sedang hamil.” lanjut Ade sambil mengetuk-ngetukkan jari ke kartu-kartunya.

    “Sudah menikah kok nih….” gumam Ade seolah berkata ke dirinya sendiri.

    “Wah saya nggak tahu bu. Kata suami saya, itu cuma teman bisnis kok. Tapi intuisi saya mengatakan, mereka pacaran.”

    “Intuisimu benar mbak. Mereka bukan kawan bisnis. Cewenya agresif nih…” ujarku sambil melihat ke kartu-kartuku.

    “Lalu mbak diam saja?” tanyaku lebih lanjut.

    “Saya nggak berani ribut mbak… Saya tidak bekerja, anak saya dua, masih kecil semua. Semua uang rumah tangga dipegang suami saya. Saya hanya dikasih uang belanja mingguan. Kalau butuh baju atau make up, belinya bareng suami saya. Dia akan bayar pakai credit card. Usia kami terpaut jauh, 18 tahun. Dia duda, ketika kami menikah… Saya gadis, baru lulus SMEA, bekerja baru 6 bulan di supermarket, lalu dilamar tanpa proses pacaran. Suami saya meminta saya melalui orang tua saya…”

    Seketika aku lemas…! Ini lho yang selalu ku khawatirkan…!!! Perempuan adalah penyangga kehidupan (kehidupan anak-anaknya!) namun tidak memiliki akses nafkah. Kalau sudah begini, mau menyangga kehidupan dengan cara apa…???

    Dengan cara menahankan derita! Terpaksa menerima nasib yang buruk dan pahit. Hanya supaya bisa makan.

    ((((Hanya supaya bisa makan))))

    Wajah rupawan itu melongo memandangi kami, seolah tak punya daya hidup lagi. Dia menunggu dengan hening… sementara kami sibuk mengocok dan menebar kartu, menggali jawaban sebanyak yang bisa kami ‘cangkul’.

    Kartu-kartuku menunjukkan bahwa dia memiliki masa depan yang bagus, punya potensi sebagai business woman.

    Aku sendiri terpana melihat kartu-kartuku. Hah? Masak sih orang ini punya bakat sebagai pebisnis? Wajah dan ekspresinya khas stereotip ‘the blondies’ alias wanita-wanita berambut pirang yang sering digambarkan ‘berotak kosong.’

    Aku melongok ke kamera, ke arah kartu-kartunya Ade. Lho…! Kok sama…! Ada kartu bermasa depan cerah di sana…

    “Gini ya, mbak bersedia nggak, diterapi dulu? Ini daya juangmu belum terdevelop lho… Ini harus dibangkitkan dulu. Karena mbak punya potensi besar lho…! Masih terkubur saja nih…”

    Ade menjelaskan.

    Hatiku plong. Berarti dugaanku keliru. Perempuan ini tidak sebloon ekspresinya. Kartu-kartuku cocok dengan kartu-kartunya Ade.

    Perempuan ini berpikir sebentar, terkait biaya terapinya. Lalu dengan ragu berkata, “Saya ambil cicilan saja di toko online Garuda Amerta ya…”

    Singkat cerita, kami meng’coachAwikan’ dia, alias mengirimkannya ke Coach Awie, untuk diterapi.

    ********

    Sebulan kemudian, dia datang kembali.

    “Betul mbak. Suami saya sudah menikah siri… dan pacarnya hamil tua sekarang. Saya harus bagaimana?”

    Kembali, kami mencari jawaban. Lalu menyusun strategi. Kami menyarankannya :

    ~ pertahankan pernikahan dulu

    ~ membuka usaha bersama seorang perempuan senior.

    ~ Cari, siapa perempuan ini. Ciri-cirinya : XYZ.

    ~ Bisnisnya di sektor makanan.

    ~ Modalnya minta ke suamimu, mintanya dengan cara yang manis dan melibatkan hubungan badan yang memuaskan.

    ~ Teruslah bersikap manis, pakai strategi ‘winning without confrontation’.

    ~ Fokus ke dirimu, anak-anakmu, bisnismu, suamimu, dan rumah tanggamu ketika suamimu ada di rumah.

    ~ Abaikan perempuan itu, anggap saja dia tidak ada, dan anggap saja suamimu adalah pelaut yang pulang seminggu sekali.

    “Siap.” Perempuan itu menyatakan sikapnya. Sudah mulai terlihat tegas sekarang….

    ********

    Selusin purnama berlalu. Kemarin perempuan ini hadir lagi ke ruang konseling kami, sambil duduk di dalam mobil. Rambutnya pendek sekarang. Menyentuh bahu. Wajah cantiknya cerah, matanya bersinar ramah. Dan ekspresinya…! Aku suka ekspresi itu! Ekspresi perempuan percaya diri!

    “Saya bisa nyetir bu, sekarang. Ini mau jemput anak sekolah.

    “Terus bisnisnya gimanaaa..? Lancar kaaan???” Sambut Ade dengan meriah.

    “Alhamdulillah bu. Saya dan kakak perempuan saya jadi pemasok sayuran dan bahan-bahan masakan ke beberapa klinik dan rumah sakit… Betul bu, ternyata lancar. Ini mobil dari hasil usaha kami…”

    “Wooow.…!”

    Ade dan aku sumringah luar biasa! Nggak ada yang paling membanggakan kami selain melihat anak-anak kami berdaya, dan melihat klien-klien kami sukses, terutama klien perempuan yang menemukan dirinya sendiri lalu menapaki jalan hidupnya dengan bahagia…!

    “Terus… mau tanya apa kali ini…?” Ade bertanya dengan riang gembira.

    “Mau tanya bu, apakah sebaiknya saya bercerai ya?”

    “Lhooo kenapa?”

    “Suami saya bangkrut bu. Dan dia sudah nggak pernah ke rumah istri sirinya lagi. Sekarang sayalah yang harus menafkahinya… padahal anak kami dua, dan sekolah di sekolah mahal semua… Saya lumayan berat ini bu… kan saya masih merintis usaha… dan harus mulai menabung untuk biaya kuliah anak-anak saya…”

    Jeng jeeeeng… Ade dan aku saling berpandangan sambil nyengir kecut

    Sampai di sini saja, kisahnya ya. Karena episode mbak cantik ini kemudian, adalah kisah lain…

    Yang jelas, inti dari kisah nyata ini adalah :

    SEMUA ORANG itu memiliki potensi yang luar biasa. Semua orang.

    Jika SEMUA ORANG menggali dan mengembangkan potensi-potensinya, tak akan ada lagi orang yang tergantung sepenuhnya pada orang lain (alias secara tidak sehat)… hanya untuk bisa makan.

    Temukan siapa dirimu.

    Kembangkanlah.

    Lalu berjalanlah memetik bulan di langit yang tinggi.

    Kami di sini siap memberikan layanan dari berbagai aspek : psikologi, grafologi, hipnoterapi, cartomancy, dan strategi bisnis

    Pendaftaran :

    @infoGAC.com, di bagian Garuda Amerta Whatsapp

    ——-

    Catatan :

    Detail kisah telah diganti, ditambah, dikurang. Tapi intinya tetap sama. Jika ada kesamaan kisah, itu hanya kebetulan.

  • Pemulihan Epigenetik: Sebuah Terobosan Baru dalam Sains Healing

    Pemulihan Epigenetik: Sebuah Terobosan Baru dalam Sains Healing

    Pemulihan Epigenetik: Sebuah Terobosan Baru dalam Sains Healing

    Epigenetik adalah bidang biologi yang mempelajari bagaimana lingkungan dan pengalaman mempengaruhi regulasi gen kita. Pengalaman-pengalaman ini dapat membawa dampak yang tahan lama pada DNA kita dan mengubah cara gen kita diekspresikan, yang menyebabkan perubahan pada kesehatan fisik dan mental kita.

    Untuk mengendalikan ekspresi gen dalam konteks epigenetik, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

    Pertama, perubahan dalam pola makan dan nutrisi. Diet yang kaya akan makanan utuh dan bernutrisi telah terbukti memiliki efek positif pada ekspresi gen dan mengurangi risiko penyakit kronis. Misalnya, mengonsumsi diet yang kaya akan buah, sayuran, dan asam lemak omega-3 telah terkait dengan penurunan inflamasi dan stres oksidatif, keduanya dapat memiliki dampak negatif pada gen kita.

    Kedua, mengurangi paparan terhadap toksin lingkungan. Ini termasuk bahan-bahan berbahaya dalam udara dan air, serta bahan kimia dalam makanan dan produk perawatan pribadi kita. Dengan mengurangi paparan terhadap toksin-toksin ini, kita dapat membantu meminimalisir dampak negatif mereka pada gen kita dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

    Ketiga, manajemen stres. Stres kronis telah terkait dengan berbagai hasil kesehatan negatif, termasuk meningkatnya risiko penyakit kronis dan sistem kekebalan yang lemah. Dengan mengurangi stres melalui praktik seperti meditasi, kewaspadaan, dan olahraga, kita dapat membantu mencegah efek berbahaya dari stres pada gen kita.

    Akhirnya, tidur juga faktor penting dalam mengendalikan ekspresi gen dalam konteks epigenetik. Kekurangan tidur telah terkait dengan banyak hasil kesehatan negatif, termasuk meningkatnya risiko penyakit kronis, menurunnya fungsi kognitif, dan sistem kekebalan yang lemah. Dengan memprioritaskan kebiasaan tidur yang baik dan memastikan tidur yang cukup, kita dapat membantu mengurangi dampak deprivasi tidur pada gen kita.

    Sebagai tambahan, manajemen emosi dan energy ala Matrix Cosmic juga akan mempengaruhi ekspresi gen kita, tools utk itu akan diprogramkan langsung ke pikiran bawah sadar untuk bekerja secara otomatis selama 24 jam nonstop.