Tag: konsultasi psikolog

  • Satu Setengah Tahun Berproses : Menuju Sukses

    Satu Setengah Tahun Berproses : Menuju Sukses

    SATU SETENGAH TAHUN BERPROSES : MENUJU SUKSES

    Kalian pernah nggak, pagi-pagi, sambil sarapan, memeriksa di google maps atau waze, rute menuju tempat meeting…?

    Pernah nggak mengamati, pada jam 7 pagi, rutenya terlihat lancar, dan waktu tempuh adalah 34 menit. Namun pada jam 8 pagi, ketika kalian memeriksa google maps atau waze kembali, terlihat banyak ruas berwarna merah alias macet… dan waktu tempuhnya berubah menjadi 1 jam lebih 15 menit…?

    Kalian marah nggak sama google map atau waze, jika informasinya berubah seperti ini…?

    Nggak marah…? Lho kok nggak marah..? Kenapa…?

    Karena kalian memahami, bahwa google maps dan waze hanyalah memberikan laporan aktual atas sikon lalu lintas. Sementara sikon tersebut JUGA dipengaruhi oleh KEPUTUSAN PULUHAN RIBU MANUSIA DI LUAR DIRI KALIAN : pada pukul berapa mereka keluar rumah, mengambil rute yang mana, dan dengan perilaku mengemudi kayak apa (sambil menelepon, dandan, makan, atau sambil ngantuk lalu nyerempet kendaraan lain).

    Jadi kalian tahu persis, lancar tidaknya perjalanan kalian, dipengaruhi oleh TINDAKAN kalian dan TINDAKAN ORANG LAIN di sekitar kalian.

    Itulah makanya kalian sadar, betapa pentingnya mengecek google map atau waze dari waktu ke waktu. Tujuannya jelas : untuk mendapatkan data yang aktual.

    Demikian juga, dengan kehidupan. Hidup kita terbentuk oleh keputusan pribadi dan keputusan kolektif.

    Di bawah ini ada kisah salah satu klien kami, yang kami bersamai sejak masih menjadi ‘anak kost culun yang bekerja sebagai part timer’ menjadi profesional yang mampu menyewa gedung kantor di daerah bisnis Sudirman dan mempekerjakan 4 karyawan. Dalam waktu 1,5 tahun..!!!

    (Akan ada kisah, tentang ibu rumah tangga yang kelabakan dengan ulah suami yang pacaran dan menikah siri, padahal mereka memiliki 3 anak di bawah 10 tahun. Tangisan, keluh kesah dan rasa tak berdayanya dia ubah menjadi tekad untuk maju sampai menjadi pemasok sayuran dan ikan ke berbagai restoran dalam waktu 1 tahun!)

    ********

    Sekarang kita ngobrol dulu tentang anak kost culun itu. Sebutlah namanya Dewi Fortuna, lajang, hidup sendirian di kost, dan bekerja sebagai part timer di sebuah perusahaan konsultan.

    #KONSULTASI_PERTAMA :

    Awalnya, dia menanyakan dua hal :

    1. Mengapa karirnya begitu-begitu saja.

    2. Punya pacar pun menyakiti hati terus. Ini jodoh nggak sih?

    Pertama, yang terlihat adalah :

    Dia harus pindah rumah kost. Rumah itu ‘berat’ dan suasananya menekan. Ternyata betul, kawan-kawan kostnya suka berhutang. Sebagai etnis minoritas, Dewi merasa tak enak menolak. Kuatir jika dia sendiri kesulitan kelak, tak ada yang mau membantu.

    Haisss… nggak ada tu kayak gitu! Orang-orang di rumah itu, bukanlah orang yang akan membalas air gula dengan air gula. Cabut! Ada rumah kost yang bagus, sudah menanti. Cari. Tempatnya nyaman, hening, dan kamu akan bisa beristirahat dengan tenang. Bahkan bisa WFH dengan nyaman.

    Soal pacar? Dia cuma menjadikanmu babu. Anak orang kaya kan? Maminya menguasai dan mengelola keluarga, macam bos mafia. Dan kamu akan dipandang sebelah mata. Cowomu bule, nanti. Sekarang fokus bekerja dulu, supaya bisa punya duit untuk traveling ke Eropa. Nanti akan ketemu bule itu di Jerman.

    Dia sepakat untuk fokus bekerja. 90% durasi konsultasi, kami pakai untuk membangun strategi :

    ~ begini ke atasan yang ini.

    ~ begitu ke rekan kerja yang itu.

    ~ tunjukkan etos kerja A ke pak boss

    ~ submit 2 hari sebelum deadline ke bu boss

    #KONSULTASI_KEDUA

    Dewi melaporkan, sudah pindah kost ke rumah yang sungguh nyaman dan hening. Jangankan untuk istirahat, untuk WFH pun enak banget. Dia jadi bisa banyak bekerja dan menyelesaikan lebih banyak project. Dia bahkan diberi kepercayaan untuk ‘memegang’ project klien lain. Gimana ini? Ambil nggak?

    Jawabannya :

    Ambil, dengan satu syarat. Dia harus mendidik seorang kawan kerja, masih magang, untuk menjadi ‘tangan kanan’ Dewi. Orangnya berciri A, B, C. Dia bagus untuk mendukungmu agar lebih produktif. Mintalah ke bu boss, untuk mensupervisi anak magang ini.

    Beberapa strategi juga disusun untuk urusan ‘client handling’.

    #KONSULTASI_KETIGA

    Dewi melaporkan, dia sudah menjadi rekanan tetap di perusahaan konsultasi ini.

    Kali ini, penampilannya nampak banyaaaak sekali berubah…!!! Dia semakin cantik, gerak-geriknya anggun dan percaya diri, bahkan nada suaranya pun berwibawa!

    Kali ini Dewi membeberkan rencananya untuk mempekerjakan lebih dari dua anak magang, karena Dewi juga sudah mulai disodori proyek-proyek oleh perusahaan konsultasi lain. “Bagaimana prospeknya?” dia bertanya.

    Singkat cerita, dari konsultasi ketiga ini, akhirnya Dewi membuat firma bayangan. Pekerjaannya banyak, pegawainya ada, tetapi belum berupa lembaga.

    Nggak papa! Jangan bikin lembaga dulu…! Mantabkan. Dewi meninggalkan sesi konseling Garuda Amerta Consulting (GAC), sambil membawa beberapa bekal strategi.

    #KONSULTASI_KEEMPAT

    Setelah menekuni proses : konseling-dipraktekin-konseling-dipraktekin selama hampir 1,5 tahun, Dewi melihat peluang membangun sendiri lembaga konsultan sendiri. Apakah tepat?

    Kami melihat tahun ini saat yang tepat bagi Dewi untuk membangun sebuah struktur alias perusahaan. Letaknya di mana, karyawannya berapa, nyari karyawannya bagaimana. Semua kami bahas dengan teliti. Kami melihat : universe conspires! Dewi akan mendapat bantuan dari kanan-kiri.

    “Jadi, aku jalan nih? Manteb ya?” tanya Dewi.

    “Manteb. Gaspol!” jawab kami.

    #KONSULTASI_KELIMA

    Dewi datang lagi, menceritakan proses beratnya mencari space untuk kantornya. Memproses sendiri 200 lamaran yang masuk, padahal dia cuma butuh 4-5 karyawan saja. Dia juga bercerita, dibantu oleh beberapa kawan dalam proses ini.

    TAPI AKHIRNYA DAPAT…! Semua terjadi…!

    Dengan bangga dia memperlihatkan foto kantornya. Sekaligus interiornya. Kami menyarankan duduknya Dewi harus menghadap selatan, membuka kantor pertama kali tanggal sekian, jam sekian, dan menyediakan makanan yang manis bagi karyawan dan kawan-kawan.

    Kami juga membacakan potensi dari 4-5 orang yang sudah masuk ke kualifikasinya. Bagaimana meng-handle si A, si B, si C. Hati-hati pada si D, ini anak yang nggak punya pendirian, dan masih sangat disetir oleh ibunya. Dia bisa tiba-tiba resign dan akan membuat kerja team akan tertunda.

    Dan seterusnya, dan selanjutnya.

    ********

    Demikianlah, salah satu klien yang telah DENGAN TEPAT menggunakan expertise kami : sebagai rekan membangun masa depan sesuai dengan motto Garuda Amerta Consulting (GAC) : ’YOUR PARTNER IN GROWTH’.

    Jadi, bukan sekedar datang untuk mendegarkan ramalan si ‘tukang ramal’ kemudian pasrah dan nggak melaksanakan yang disarankan….😁

    Garuda Amerta Consulting (GAC) memiliki tim khusus untuk membahas bisnis. Ada Ade Sikado, ada Nana Padmo, dan ada Mulyani Alink. Bukan kebetulan, kami bertiga adalah single parent yang menafkahi diri dan anak-anak dengan berbisnis.

    Jika membutuhkan jasa kami, bisa menghubungi melalui @infoGAC.com di nomor whatsapp yang tersedia di sana.

  • Moving On, Merelakan Masa Lalu

    Moving On, Merelakan Masa Lalu

    TAHUKAH ANDA, masa lalu yang sulit direlakan itu bukan mesti kenangan kelam dan buruk loh. Kenangan indah juga dapat membuat kita sulit merelakan. Sudah direlakan pun tetap saja sulit move on.

    Justru karena terlalu indah, makanya tidak rela beranjak dari sana. Karena terlalu membahagiakan, maka terasa sulit untuk mencari penggantinya.

    Kita lihat ada orang yang tidak bersedia menikah lagi setelah kehilangan pasangan hidup karena kematian padahal dia mampu. Ternyata dia merasa sulit menghapus kenangan indah bersama almarhum(ah). Jangankan menikah lagi, merelakan saja belum tentu mampu. Bahkan banyak kasus yang kita ketahui malah menyusul pujaan hatinya bertemu Yang Maha Kuasa, tak lama setelah kejadian kehilangan.

    Kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai lebih kepada rasa cinta itu sendiri. Cinta yang membuat bahagia itu telah hilang sudah. Mencari cinta yang sama di orang yang berbeda (apalagi yang lebih dari itu) sangat susah. Maka dia tetap hidup di masa lalu bersama kenangan pasangannya. Ada yang membuat suatu ruangan khusus yang menyimpan semua barang-barang pasangannya untuk dikunjungi setiap saat. Melarang orang-orang menyentuh apapun yang berada di ruangan itu. Ada yang selalu datang ke pemakaman pasangannya dan berlama-lama di sana sambil mengenang masa lalu yang indah.

    Terkadang perilaku ini dapat memberikan ketenangan, namun sering kali malah membuat luka semakin dalam. Hidup di masa lalu dan menolak perubahan adalah ciri-ciri orang yang belum move on. Efek jangka panjangnya dapat berpengaruh ke kondisi kesehatan mental dan fisik yang lebih serius.

    Devira Sari (Psikolog, Garuda Amerta associates)