Pernah nggak kamu melihat insinyur membangun gedung atau jembatan, tanpa perencanaan, tanpa menyiapkan dulu bahan bangunan seperti batu kali, pasir, batu bata dan semen…?
Hampir nggak ada ya..?
Bisakah seorang chef memasak masakan yang sedap tanpa mengenali cita rasa dan aroma bumbu-bumbu yang dipakainya?
Hampir nggak mungkin ya..?
Tapi berapa banyak, manusia yang memilih jurusan akademik, pekerjaan, bahkan menikah tanpa mengenali siapa dirinya…? Tanpa tahu apa kelemahan serta kekuatannya? Bahkan, tanpa persiapan yang memadai (selain persiapan resepsi, gedung, dan catering)….?
Hampir 70% dari populasi kayaknya ya? Hehehe
Pada main nyemplung aja ke episode hidup yang baru, lalu bingung.
Lalu tanpa sengaja membuat masalah.
Lalu berusaha menyelesaikan masalahnya tanpa kemampuan problem solving.
Lalu masalahnya semakin besar… dan besar… dan besar…
Lalu stress.
Lalu melakukan kompensasi seperti :
Selingkuh
Foya-foya untuk menghibur hati
Hutang online dan offline
Menggelapkan uang perusahaan
Ketahuan.
Terjadi ledakan drama
Endingnya berkata, ‘Tuhan* sedang mencobai saya.’ Padahal Tuhan* lagi anteng-anteng piknik di tepi sungai yang jernih dan sejuk di Taman Surga, sambil makan anggur dan kurma.
Tuhan* sudah memberikan ‘manual book’ bersamaan dengan hari kelahiranmu. Tapi kamu nggak mau membacanya, karena diajarin entah oleh siapa, bahwa itu tindakan salah yang menyimpang.
Membaca manual book pribadi, yang spesifik khusus untuk kita, agar bisa menjalankan hidup dengan baik… kok dikatai menyimpang?
Lha yang dianggap nggak menyimpang itu, yang kayak apa? Hidup acak-adut karena clueless?
Catatan : bagi para kawan ateis, agnostik, skeptik dll, abaikan saja kosa kata *Tuhan di sini. Kalian cari padanan atau istilah lain saja, yang cocok bagi kalian ya.
Intinya, aku cuma mau bilang : Hidup adalah perjalanan. Banyak #rambu dan #pertanda di sepanjang jalan. Bahkan jalur off road pun memiliki ciri khas yang bisa diamati sebagai #informasi. Persoalannya, mau nggak kita memperhatikan semua itu, dan berusaha memahaminya?
**********
Bagi siapa saja yang ingin membuat perencanaan besar atau blue print bagi dirinya, anaknya, atau sekedar ingin memahami orang-orang yang penting dalam hidupmu (agar bisa memperlakukan mereka secara tepat)…. Garuda Amerta kini membuka layanan baru :
Konsultasi khusus Numerologi dan menggali Life Purpose.
Seperti biasa, bisa mendaftar ke daftarGAC.com atau ke nomor WA 0813 8080 2768
Aku mau cerita, tentang tiga kisah yang membuatku sendiri terharu dan bahagia, tercampur menjadi satu ketika melihat kasus ini berhasil dengan baik.
DISCLAIMER :
Semuanya kisah nyata, namun sudah kuubah nama, detail kisah dan lain-lainnya, untuk menjaga kerahasiaan klien.
#Kisah_Pertama,
seorang kawan medsos menghubungi aku melalui inbox. Seorang ibu berhijab yang panik karena anak lelakinya ‘menghilangkan diri’ bergabung dengan kelompok fundamentalis. Semua kontak ditutup oleh pemuda tampan yang berkuliah di universitas mentereng ini.
“Ini ikhtiar saya karena sudah putus asa mbak. Mohon maaf, seharusnya saya tidak bertanya melalui tarot karena ajaran agama saya, tetapi saya percaya pada mbak Nana. Bisakah anak saya kembali? Apa yang harus kami lakukan?”
Singkat cerita, kami, melalui tarot, melihat peluang pemuda ini bisa kembali ke keluarganya. Namun perlu dibantu oleh ikatan batin ortunya. Akhirnya kami melibatkan Coach Awie Suwandi dalam proses berikutnya, setelah sesi konsultasi tarot selesai dilakukan.
Pada meeting selanjutnya, yang dilakukan melalui zoom, hadir Bapak Ahmad dan Bu Ahmad (kita sebut saja begitu ya), Ade Sikado, dan aku. Meeting ini dipimpin oleh Coach Awie. Pada meeting ini, diputuskan untuk melakukan pendekatan yang disebut sebagai #Neuro_Surrogate_Therapy, yaitu sebuah upaya bicara dari ‘soul to soul’ antara ibu dan anak. Kenapa ibu; bukannya ayah? Karena biasanya, yang memiliki ikatan batin kuat dengan anak-anak adalah ibu. Semata karena anak-anak ini pernah ada di kandungannya.
Namun, kemudian ditemukan bahwa Bu Ahmad dalam keadaan emosi yang tidak memadai karena kelewat panik, sedih dan terpukul. Padahal, secara ‘spiritual’ si ibulah yang memiliki medan energy yang besar karena ibadahnya tekun, tidak putus. Akhirnya disepakati, ayahnya lah yang akan menjadi surrogate bagi anak lelaki ini.
Total, pak Ahmad mendapatkan 3 kali terapi seminggu sekali, dan di antara 3 minggu itu, pak Ahmad melakukan terapi secara mandiri setiap hari, dengan dibantu oleh rekaman dari Coach Awie. Jadi ada dua jenis ikhtiar yang dilakukan : diterapi secara online dan melakukan terapi sendiri (terapi mandiri ini dilakukan terus SETIAP HARI, setelah 3 sesi terapi). Sebulan berlalu tanpa ada tanda-tanda apapun, tetapi pak Ahmad tekun melakukan terapi mandiri, sambil sesekali berdiskusi dan mendapat arahan dari coach Awie melalui percakapan WA dan telepon.
Tahu-tahu, di hari ke 32, si pemuda menghubungi ayahnya…! Ini ajaib. Karena sejak kecil, orang yang biasanya dia cari adalah ibunya!
Dalam keadaan panik, namun kali ini diiringi perasaan gembira, pak Ahmad dan bu Ahmad menghubungi kami kembali.
“Apa yang harus kamu katakan? Apa langkah berikutnya? Kami tidak mau sembrono atau salah omong, nanti anak kami menjauh lagi….”
Apa yang terjadi, teman-teman…? Adalah proses yang seru sekali. Ibu Ahmad yang kini sudah kembali semangatnya, ikut bergabung dalam #Neuro_Surrogate_Therapy ini. Jadi, satu anak lelaki ‘diselimuti’ oleh cinta dan dukungan komplit dari ayah dan ibunya… untuk ‘dituntun’ pulang.
BERHASIL…!
Metoda yang sama, pernah dipakai juga bagi anak perempuan yang ‘dibawa lari’ untuk menjauh dari keluarga, oleh suaminya yang dominan, posesif, dan punya pandangan agama yang juga ‘aneh’. Akhirnya, berhasil juga kembali terhubung dengan keluarga besar.
#Kisah_Kedua
Seorang pengusaha menghubungi Coach Erlangga Satya Wardana. Minta dihubungkan dengan Coach Awie. Anak sulungnya, kita sebut saja ‘Alvin’, seorang lelaki usia 40-an yang sudah menikah, dan kini memegang sebagian urusan perusahaan keluarga, mengalami kejadian aneh. Menurut pengusaha itu, Alvin seperti orang yang terkena guna-guna, karena tiba-tiba diam saja, lalu tiba-tiba marah-marah, lalu teriak-teriak mengancam bunuh diri.
Setelah ‘diperiksa’ oleh Coach Awie ternyata tidak ditemukan adanya energi ‘santet’. Untuk memastikan, sebagai second opinion, kami diminta membuka tarot oleh Coach Awie. Sama hasilnya : apa yang dialami oleh Alvin ini murni masalah medis psikologis.
Tetapi gimana membawa Alvin berobat? Lelaki dewasa ini berkeras mengunci diri di kamar. Tidak mau bertemu siapapun, termasuk istrinya yang terpaksa tidur di kamar anak-anak selama seminggu. Alvin juga tidak mau mandi. Namun diam-diam keluar kamar pada tengah malam, ketika semua sudah tidur, untuk menggeratak kulkas. Beruntung, istrinya bijak : di hari berikutnya selalu ditinggalkan lauk-pauk lengkap dengan gizi seimbang di meja makan, di dalam mesin penghangat.
Akhirnya, dilakukan upaya #Neuro_Surrogate_Therapy pada mamanya Alvin. Baru tiga kali terapi, Alvin tiba-tiba menghubungi mamanya! Istri pengusaha ini dicurhati macam-macam oleh Alvin. Dengan perlahan-lahan, pada curhatan beberapa hari kemudian, mamanya Alvin mulai mengarahkan Alvin untuk mau berobat dan menjalani terapi ke psikiater. Pancingan ini berhasil! Alvin mau berobat.
Saat ini Alvin sudah membaik, diterapi oleh psikiater pilihan keluarganya, sementara mamanya Alvin terus mendukung Alvin secara tidak langsung melalui #Neuro_Surrogate_Therapy yang dipandu oleh coach Awie.
#Kisah_Ketiga
Seorang ibu, tadinya berkonsultasi tarot kepada kami, menanyakan Numerologi dan Life Purpose untuk ketiga anaknya, yang kebetulan perempuan semua, berusia 17, 21 dan 23 tahun.
Ibu yang single parent ini berjuang menghidupi anak-anaknya sendirian, setelah suaminya meninggal pada saat anak-anak masih usia SD. Pada konsultasi ini, dideteksi anak kedua mengalami kekosongan batin yang luar biasa karena ketidakhadiran ayah. Dan kemungkinan, pacarnya yang sekarang ini sudah memanipulasinya secara psikologis dan seksual. Besar kemungkinan akan hamil di luar nikah, jika dibiarkan pacaran terus. Dan jika menikah kelak, akan mengalami KDRT.
Terperanjat, klien kami membenarkan bacaan tarot ini. Dia memang melihat anak tengahnya ini bucin banget, sementara cowonya kelihatan butuh nggak butuh, menyepelekan dan bersikap kasar.
Lalu bagaimana?
Dilakukanlah #Neuro_Surrogate_Therapy untuk mengisi kekosongan batin si gadis usia 21 ini. Agar dipenuhi dengan cinta. Nenek dan kakek si gadis juga terlibat dalam proses ini. Intinya, mereka semua berusaha mengisi seluruh relung jiwa si anak gadis agar penuh dengan cinta.
Apa yang terjadi? Si gadis tiba-tiba tersadar bahwa dia layak dicintai. Dia layak diperlakukan baik. Dan dia, dengan gagah berani memutuskan pacarnya dan menutup semua jalur komunikasi. Total! Padahal ibu, nenek dan kakeknya tidak bicara apapun, dan tidak membocorkan keberadaan terapi ini.
Belakangan, gadis itu berkata kepada ibunya, bahwa dia tiba-tiba tersadar saja. Dan dia tidak merasakan sedih atau kehilangan, setelah putus cinta.
Bagus!
********
Jadi kawan-kawan, kuharap, dari 3 kisah ini, kawan-kawan bisa melihat bahwa Garuda Amerta Consulting adalah lembaga yang membuka diri pada berbagai pendekatan dan metode, termasuk bekerja sama dengan kalangan ilmuwan dan medis barat. Prinsip kami adalah client centered! Yang penting adalah : klien terbantu. Tidak penting, apakah yang berperan adalah sepenuhnya science atau sepenuhnya pseudoscience.
Satu lagi kuncinya :
#Neuro_Surrogate_Therapy hanya bisa dilakukan oleh orang tua (ortu) yang sudah selesai dengan dirinya, selesai dari trauma-traumanya, dan memiliki ego yang sehat.
Terapi ini TIDAK BISA dipakai untuk mendominasi anak, TIDAK BISA dipakai untuk menggiring anak menjauh dari Life Purposenya semata karena orang tuanya menghendaki lain, atau niatan yang semacam itu.
Bagaimana jika ortunya masih ‘kacau’?
Ya mau nggak mau, ortunya yang dibantu duluan. Diterapi duluan. Karena hanya ortu yang mantab dan kokoh, yang bisa menolong anak-anaknya.
Jika membutuhkan layanan ini, dapat menghubungi Coach Elang di WA dengan klik di SINI
Kemarin, kami kedatangan 2 orang gadis dari dua kota besar yang berbeda di Indonesia, namun memiliki keluhan yang sama : dikejar-kejar oleh ortunya dan keluarga besarnya untuk segera mencari pacar dan menikah.
Kebetulan, keduanya akan berusia 31 tahun, tahun ini.
Kebetulan juga, keduanya cantik.
Kebetulan juga keduanya berpendidikan tinggi.
Kebetulan juga, keduanya memiliki karir yang cemerlang.
Dan semesta ini memang ajaib, keduanya ramah dan periang.
Jadi ya wajar kalau ortu gadis yang pertama (kita sebut saja A, ya) menasihati :
“Jangan terlalu pemilih… lelaki baik-baik itu banyak kok. Manusia itu setara semua… Jangan merasa dirimu itu tinggi…”
Nasihat yang bagus, sebetulnya. Dan sangat humanis.
Tapi, ya gimana… si A ini memang HARUS DAPAT ORANG SUKSES, KAYA DAN LEBIH TUA… Dia ini numerologinya 9 (Hermit), merupakan numerologi tertinggi dari semua tipologi. Seorang berjiwa ‘tua’ bagaikan pertapa yang wisdomnya mumpuni. Pertapa, mana bisa tahan hidup dengan orang awam yang cetek pemikirannya dan sempit wawasannya. Seorang Hermit biasanya hanya jatuh cinta kepada orang yang bisa dikagumi dan dihargainya. Nggak sembarang orang mampu membuatnya terkesan.
Plus, Life Values yang dia bawa di bawah sadarnya adalah The Queen. Ratu. Mana ada Ratu yang bisa ‘fulfilled’ hidup sebagai rakyat biasa?
Melihat latar belakangnya yang double degree di luar negeri dan sudah S2 pula… Haih… memaksanya ’mencomot’ lelaki yang pokoknya baik dan memiliki pekerjaan tetap lalu menyuruhnya menikah… hanya akan membuat gadis ini menderita.
Lha lalu apa artinya, jika bisa segera menikah tapi lantas menderita??? Mendingan sabar dulu, sampai ketemu jodohnya yang betulan bermutu. Ada kok, jodohnya. Tapi belum ‘available’ sekarang… Entah kenapa belum available. Mungkin masih punya istri… Mungkin masih membangun ’kerajaan’ dulu…
Atau mungkin masih keliling dunia menuntaskan beberapa tugas kehidupan, sebelum akhirnya bisa menetap dan membangun keluarga…
********
Lain halnya dengan si B. Gadis yang lahir dari keluarga berada ini sibuk mengelola bisnis keluarga besarnya. Relasi yang dikenalnya luas. Tapi mereka adalah klien-klien besar, supplier, beberapa pejabat di dinas-dinas yang terkait dengan ekspor-impor… Bukan orang sebaya.
Berbeda dengan si A, ortu dan keluarga besar si B justru mewanti-wanti agar B cermat memilih-milih pasangan hidup… jangan asal cocok tapi levelnya di bawah keluarga mereka, supaya nggak memicu konflik terkait harta dan warisan.
Nasihat yang bagus juga, memperhatikan bibit, bebet, bobot agar pernikahannya sinergis dan langgeng.
Tapi, lucunya, sikonnya terbalik. Si B ini numerologinya adalah 6 (The Lovers) dan Life Valuesnya adalah 8 (The Strength). Dia justru akan bahagia jika mendapatkan pasangan hidup yang mampu membuatnya NYAMAN, meskipun datang dari latar belakang berbeda dan levelan di bawahnya. Nggak masalah baginya, karena 8 adalah orang yang kuat menderita. Artinya, kemiskinan tidak akan membuatnya merana. Apalagi, kenyataannya dia toh tidak miskin. Kalau cuma diajak liburan ‘pulang kampung’ ke desa terpencil suami yang rumahnya reot…. Dia akan nyaman saja. Yang penting dikelilingi oleh orang-orang yang loving.
Gadis B ini, jodohnya juga ada. Tapi di Amerika, bukan di kota tempat dia berkuliah dulu. Dan setelah beberapa tanya jawab, kami menemukan lokasinya.
Bisa kok, pindah tahun depan. Sekarang persiapan dulu, membereskan perusahaan agar bisa dikelola dari jauh, lalu mungkin meluaskan usaha ke sana. Bulan Juni tahun ini akan menjadi lebih clear, urusan dan tujuannya pindah. Berproses saja dengan nyaman dan bahagia.
********
Dari kedua kisah A dan B ini, kita jadi memahami bahwa nasihat yang bagus itu belum tentu cocok bagi semua orang… Karena setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik, yang nggak bisa diseragamkan sesuai pakem yang beredar di masyarakat…