Category: Psikologi

  • Mana Yang Penting? Income atau Kapasitas Daya Tampung Wadah Rejeki?

    Mana Yang Penting? Income atau Kapasitas Daya Tampung Wadah Rejeki?

    Banyak orang bertanya, faktor apa saja yang menjadi penentu kekayaan seseorang, apakah besarnya penghasilan?
    Dari pengalaman saya selama memberikan coaching, ternyata selain besarnya income, ada faktor lain yang juga penting, yaitu seberapa besar daya tampung Wadah Rejeki seseorang.


    Bicara tentang Income, saya memperhatikan ada fenomena yang disebut dengan efek Financial Thermostat, bagaimana kerja Financial Thermostat?
    Thermostat adalah pengatur suhu ruangan, kerja thermosatat adalah memastikan suhu ruangan tetap berada di sekitar suhu yang sudah ditetapkan, jika ruangan bertambah panas, maka thermostat tersebut akan menyalakan AC untuk mendinginkan ruangan, jika ruangan bertambah dingin, maka thermostat akan menyalakan pemanas untuk menaikkan dan memastikan suhu ruangan tetap stabil.
    Ternyata dalam hal income, ada efek yang disebut dengan Financial Thermostat Effect.
    Pernahkan teman-teman mengalami, bahwa dalam hal income, ada plafon atas yang susah ditembus dan ada plafon bawah yang jarang dilewati? Inilah efek dari Financial Thermostat.


    Selain faktor Income, ada faktor penentu lain yang menurut saya lebih penting lagi, yaitu kapasitas daya tampung Wadah Rejeki seseorang.
    Seseorang dengan daya tampung Wadah Rejeki yang kecil, meskipun terkadang mereka mendapatkan rejeki nomplok atau memiliki income yang besar, biasanya akan mengalami kebocoran atau rejeki meluber ke orang orang di sekitarnya.
    Pernahkah Anda mengalami, rejeki sudah di depan mata tapi tiba tiba saja hilang, atau yang mendapatkannya malah orang lain?
    Atau income besar, tapi semua habis di akhir bulan tanpa sempat ditabung atau dijadikan asset, padahal tidak berfoya-foya?
    Atau juga ada kejadian apes yang berulang ulang, yang menguras tabungan sampai habis?
    Inilah pertanda kapasitas & daya tampung wadah rejeki Anda itu kecil atau sedang mengalami kebocoran.
    Jadi memperhatikan efek kerja dari Financial Thermostat & Kapasitas Daya Tampung itu penting, jika setting Financial Thermostat sudah tinggi dan kapasitas Wadah Rejeki sudah besar, maka secara otomatis income dan aset juga akan bertambah.
    Kita dapat memperhatikan banyak orang kaya dengan setting financial thermostat yang sudah tinggi, ketika mereka bangkrut, maka hanya dalam beberapa saat saja mereka akan kembali ke kekayaan semula bahkan lebih kaya lagi…
    Atau orang orang yang berpenghasilan tinggi, tapi semua habis terpakai tanpa sisa bahkan berhutang beberapa saat kemudian…


    Lalu bagaimana caranya untuk menaikkan setting Financial Thermostat sekaligus memperbesar kapasitas daya tampung Wadah Rejeki?
    Secara rutin Garuda Amerta mengadakan kelas “Memperbesar Wadah Rejeki” dan kelas “MoneyFestasi Mastery” yang biasa dilakukan di hari Minggu. Di kedua kelas ini nanti akan diterapi penyebab kecilnya Wadah Rejeki akan diterapi, dan diajarkan metode moneyfestasi yang praktis, mudah dan powerful untuk dilakukan.
    Untuk informasi jadwal kelas silakan hubungi Garuda Amerta dengan Sarah +62 813-8080-2768, atau klik DaftarGAC.com

  • Moving On, Merelakan Masa Lalu

    Moving On, Merelakan Masa Lalu

    TAHUKAH ANDA, masa lalu yang sulit direlakan itu bukan mesti kenangan kelam dan buruk loh. Kenangan indah juga dapat membuat kita sulit merelakan. Sudah direlakan pun tetap saja sulit move on.

    Justru karena terlalu indah, makanya tidak rela beranjak dari sana. Karena terlalu membahagiakan, maka terasa sulit untuk mencari penggantinya.

    Kita lihat ada orang yang tidak bersedia menikah lagi setelah kehilangan pasangan hidup karena kematian padahal dia mampu. Ternyata dia merasa sulit menghapus kenangan indah bersama almarhum(ah). Jangankan menikah lagi, merelakan saja belum tentu mampu. Bahkan banyak kasus yang kita ketahui malah menyusul pujaan hatinya bertemu Yang Maha Kuasa, tak lama setelah kejadian kehilangan.

    Kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai lebih kepada rasa cinta itu sendiri. Cinta yang membuat bahagia itu telah hilang sudah. Mencari cinta yang sama di orang yang berbeda (apalagi yang lebih dari itu) sangat susah. Maka dia tetap hidup di masa lalu bersama kenangan pasangannya. Ada yang membuat suatu ruangan khusus yang menyimpan semua barang-barang pasangannya untuk dikunjungi setiap saat. Melarang orang-orang menyentuh apapun yang berada di ruangan itu. Ada yang selalu datang ke pemakaman pasangannya dan berlama-lama di sana sambil mengenang masa lalu yang indah.

    Terkadang perilaku ini dapat memberikan ketenangan, namun sering kali malah membuat luka semakin dalam. Hidup di masa lalu dan menolak perubahan adalah ciri-ciri orang yang belum move on. Efek jangka panjangnya dapat berpengaruh ke kondisi kesehatan mental dan fisik yang lebih serius.

    Devira Sari (Psikolog, Garuda Amerta associates)