Uban dan Berat Badan

Foto diriku yang kemarin, ternyata membuat beberapa orang tergelitik untuk bertanya : itu rambut asli…? Itu uban atau diwarnai…?

Jawabannya, tentu : itu uban. Jelas rambut asli 😄

Aku datang dari keluarga yang memiliki genetik unik : cepat beruban, tapi kulit awet mulus tanpa jerawat sejak puber. Nenek, bude-bulik sampai sepupu-sepupuku begitu. Ketika kami tua, kulit kami kendor. Pipi dan dagu turun. Tapi nggak keriput.

Itu makanya, kenapa kami tidak memerlukan perawatan kulit yang ngejelimet. Benar-benar dapat jackpot genetika.

Jadi, ketika kami mulai beruban di usia muda… tantangan yang kami hadapi sama : bagaimana berdamai dan menerima perubahan fisik ini sebagai bagian dari diri kami.

Ngecat-ngecat rambut, awalnya kulakukan. Tapi dalam 2-4 minggu lalu harus ngecat lagi karena di pangkal rambut timbul warna putih lagi. Begitu terus. Karena sadar : aku tak bisa melawan alam.. aku, sama seperti pendahulu dan senior-seniorku di keluarga, lalu mulai berdamai dengan ubanku.

Jadi, yang kemudian kulakukan adalah : merawat rambutku agar tebal. Dengan pikiran : orang itu terlihat tua bukan karena uban atau keriput… tetapi ketika nampak : lusuh, layu, tidak fit, ‘meranggas’, murung dan tidak lincah. Rambut tipis, adalah salah satu ciri tidak fit dan ‘meranggas’.

Jadi, kemudian aku bertualang mencobai berbagai tonic rambut. Mulai dari Ginseng Hairtonic dari Rudi Hadisuwarno, Garnier Neril, NR, Intense, Nature, Aminexil dari L’oreal… sampai dapat yang cocok.

********

PR ku yang kemudian, adalah bobot tubuh.

Kalau menurut BMI (Body Mass Index) Calculator versi gratisan di google, berat badanku tergolong obesitas. Nggak ada istilah ‘nggak papa gemuk, yang penting sehat’ di kamusku. Karena, semua organ yang dibalut lemak itu TIDAK SEHAT.

Dan terbukti kan?

Ketika aku sedang merasa fit, mampu jalan kaki 12 km sehari ketika traveling, mampu diving/menyelam melawan arus di laut selama 1 jam non stop, mampu berenang bolak-balik selama 1,5 jam non stop tanpa ngos-ngosan… ternyata aku memiliki 3 sumbatan jantung dan Desember kemarin terpaksa dadakan dioperasi karena sudah tersumbat 90%.

Untung ketika itu aku iseng-iseng general check up..!!! Kalau nggak kan, mungkin saja aku tiba-tiba stroke atau meninggal. Dan orang-orang cuma komentar :

“Padahal kemarin masih kasih konsultasi lho ke gue…”

“Padahal tadi malem masih ketawa-ketawa sama aku di telepon.”

“Padahal tadi pagi masih bikin status lho.”

Tidak sakit, bukan berarti sehat.

Aku tidak sakit ketika itu. Tapi tubuhku tidak sedang baik-baik saja.

Sekarang aku sedang bergabung dengan EAZY SLIMMING, program baru besutan Coach Awie Suwandi. Metode pelangsingan yang mudah maka dinamai ‘eazy’ : tanpa pantangan makan, tanpa kewajiban olah raga berat. Dalam seminggu, dietnya hanya 2 hari saja.

Aku diterapi dengan hipnoslimming lalu dibimbing menciptakan ‘Manager Body’ dan ‘Manager Kebiasaan’ di bawah sadarku. So far sudah turun 5 kilogram. Masih ada 16 kilogram lagi yang harus dibuang, agar jarum BMI menunjuk ke area normal.

Tentu saja aku bersemangat untuk sehat.

Foto-foto di bawah adalah perempuan berusia di atas 60 tahun. Beruban, keriput, seorang dandan berat, seorang dandan natural, seorang bare face. Tapi tak seorang pun nampak layu apalagi mengenaskan.

Menjadi tua adalah sebuah proses alamiah. Ini nggak bisa dilawan atau dibendung.

Tetapi, sehat dan bahagia adalah hal yang bisa diupayakan dan diikhtiarkan, sesuai keputusan kita.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *